aceh modern

Wednesday, June 07, 2006

 

MEMBUNGKAM MODERNITAS DENGAN KEBODOHOHAN SYARIAH

Pasangan muda-mudi bukan muhrim ditangkap. Saya pikir ini adalah penerapan syariah yang tidak mengerti hakikat kemanusiaan. Dan kebanyakan syariah yang diterapkan di antara masyarakat di seluruh propinsi Aceh ini memang sangat tidak manusiawi.
Coba perhatikan lagi. Pasangan muda-mudi yang dimaksud ini khan berusia belasan. Tentu saja ini bukan masa bermuhrim. Di usia ini, di dalam tahapan perkembangan manusia, sedang mencari jati diri, menerima rangsangan yang memperjelas jati diri gender atau seksual mereka, dan yang lebih penting adalah terjadinya proses interaksi antara pria dan wanita di mana mereka saling mengenal antara yang satu dengan yang lain. Amar maruf nahi munkar nya jangan kebablasan dong.

Saya rasa WH pun harus berpikir dengan jernih, meski saya jelas ragu akan kemampuan berpikir dengan jernih dan lebih berpihak pada semangat manusia daripada fanatasime agama sempit.

Menanggapi surat Sri Agustini di Media, Wanita Sehat, No. 32. 7 Juni. 2006.
Tulisan Agustini

Sadarlah Saudara-saudariku. Bukan cerita baru lagi bila kita mendengark di suatu tempat ada pasangan muda-mudi yang bukan muhrim yang tertangkap basah karena berdua-duaan. Secara pribadi sebenarnya saya malu sekali. Sebab hal ini melibatkan kaum saya sendiri. Selebihnya perasaan saya sedih, sebab mengapa makin bayak kejadian serpa, tapi makin banyak pula yang tidak sadar-sadar.
Saya tak lupa berterima kasih kepada Wilayatul hisbah yang telah bekerja keras untu ini. Tapi saya pikir ini spenyakit sudah parah. Tak cukup hanya dengam merazia mereka. Ini bukan tugas polisi syariat saja. yang paling bertanggung jawab sebenarnya orang tua muda-mudi yang bersangkutan.
Tak kalah masyarakatpun harus bertanggung jawab. Sebagai anggota masyarakat saya ingin menyarankan kepada para keuchik atau lurah, kembali pro aktif menghidupkan remaja masjid. Karena banyak masjid pasca Tsunami tidak ada lagi kelompok remaja mesjidnya.
Hukuman secara sosial juga perlu saya pikir. Kalau ada muda-mudi yang melanggar syariat, kenapa tidak aparat desa / dan warga memberi sanski berupa pemboikotan misalnya. Saya tidak tahu pemboikotan di bidang apa, tapi yang jelas harus ada sangsi selain hukuman cambuk yang terjadang bikin mereka bertambah “nakal”. Terima kasih.


Sungguh sangat memprihatinkan, ada manusia yang tidak beradab, yang mengatasnamakan agama, mengumbar hal pemboikotan (sebab merasa hukuman cambuk yang sudah cukup tidak manusiawi masih dianggap kurang keras). Apakah otak Anda yang bodoh itu yang mau diboikot? Kalau Anda mau memboikot, boikot saja televisi, internet, majalah remaja, biar Aceh bertambah kuper dan bodoh. Bungkam saja lembaga pendidikan umum / universitas yang membuat orang kritis. Kemudian tutup saja penjual DVD, lalu bakar saja semua handphone, sebab semua alat ini bisa menjadi sumber / ide dasar terjadinya pelanggaran syariat, biar Aceh bertambah primitif. Saya sungguh tidak habis berpikir melihat orang yang sebodoh Anda. Sungguh sangat disayangkan surat seperti ini dimuat di media Wanita Sehat yang ikutan menjadi bodoh.

Aceh modern seharusnya bangkit menentang segala bentuk pembodohan dan kebodohan. Penegakan syariat adalah perjuangan moral bagi kemaslahatan manusia di dalam jalan Islam yang multitafsir, dan bukan untuk memperbudak manusia di dalam satu penafsiran fanatisme sempit.



Archives

June 2006  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?